Karimunjawa secara administratif merupakan sebuah kecamatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Karimunjawa terdiri dari 4 desa, yaitu Desa Karimunjawa, Desa Kemujan, Desa Parang dan Desa Nyamuk dengan total jumlah penduduk adalah 9.649. Karimunjawa merupakan kepulauan yang terdiri dari 27 pulau, 22 pulau diantaranya berada dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Taman Nasional Karimunjawa sebagai kawasan pelestarian alam perairan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.74/Kpts-II/2001, memiliki potensi yang sangat besar dari aspek sumberdaya alam maupun sosial budaya. Potensi sumber daya alam meliputi keanekaragaman flora dan fauna, 5 ekosistem penting, keindahan alam, peninggalan sejarah dan atraksi budaya spesifik. Lima ekosistem penting di taman nasional antara lain terumbu karang, padang lamun, mangrove, hutan pantai dan hutan hujan tropis dataran rendah. Potensi ekosistem yang beragam tersebut diikuti dengan beragamnya flora dan fauna yang hidup di dalamnya seperti 353 spesies ikan karang, 69 genera karang keras, 9 spesies lamun, 2 spesies penyu, 44 jenis mangrove, 116 spesies burung, tercatat 57 jenis kupu-kupu dan 3 spesies diantaranya endemik (Susanto, 2020), tumbuhan khas. Potensi wisata budaya antara lain kesenian rakyat (reog barongan, pencak silat), acara tradisional (perkawinan suku bugis, upacara peluncuran perahu, tradisi barikan) dan objek budaya (rumah adat, makam wali, sumur wali). Namun kegiatan budaya ditampilkan hanya pada waktu-waktu tertentu saja.
Tingginya keanekaragaman biota dan ekosistem dibandingkan dengan daerah lain sepanjang pantai Laut Jawa menjadikan Karimunjawa sebagai salah satu andalan objek wisata di Jawa Tengah. Sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah, sektor wisata Karimunjawa terus berkembang. Berdasarkan data kunjungan wisata oleh Pusat Informasi Wisata Jepara jumlah kunjungan wisata ke Taman Nasional Karimunjawaa meningkat empat kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Kunjungan wisatawan ini naik sebanyak 4 kali lipat sepanjang tahun 2011 hingga 2019 dimana wisatawan masih didominasi oleh 92.9% wisatawan nusantara dan 7.1% wisatawan mancanegara. Sebagian besar 93% kegiatan wisata berfokus di kegiatan wisata bahari terutama untuk kegiatan menyelam, snorkeling dan wisata pantai. Rata-rata kunjungan wisatawan yang berkunjug ke Karimunjawa di atas 12.000 orang per tahun
Saat ini, konsep pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak mengarah adanya pemborosan dalam pemanfaatan sumber daya alam, tidak ada dampak pada lingkungan dan kegiatan pembangunan harus mampu meningkatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Pembangunan yang baik seharusnya lebih
mempertimbangkan keseimbangan antara
kebutuhan pembangunan dan kelestarian
lingkungan.
Berdasarkan teori dan pemahaman akan pentingnya menjaga kelestarian, upaya-upaya dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif bersama dengan melibatkan para pihak bersama Balai Taman Nasional Karimunjawa, Pelaku wisata, Pemerintah Daerah dan Pemangku kepentingan lainnya.
- Beberapa pentahapan dilakukan dimulai dari Bulan September 2020 dengan melakukan diskusi terbatas mengenai beberapa studi yang mencangkup daya dukung lingkungan untuk kegiatan snorkling, selam, pantai serta pengelolaan sampah dan ketersediaan air bersih di kawasan TN Karimunjawa. Rekomendasi hasil kajian ini menjadi dasar upaya dalam melakukan mekanisme pengaturan kegiatan wisata di TN Karimunjawa.
- Pada periode Oktober 2020, juga dilaksanakan webinar series yang bertemakan wisata berkelanjutan dengan mengundang beberapa pelaku wisata (HPI Karimunjawa, Paguyuban Biro Wisata Karimunjawa, Kementrian Pariwisata, BTN Karimunjawa, pemerintah daerah, dan akademisi Undip). Hasil dari kegiatan ini adalah konsep-konsep dan perencanaan bagaimana membangun perencanaan wisata berkelanjutan di TN Karimunjawa. Konsep-konsep ini kemudian dikumpulkan dan dipetakan untuk menjadi sebuah peta jalan (road map) dalam bentuk kegiatan-kegiatan apa saja yang diperlukan dalam upaya membangun perencanaan wisata berkelanjutan.
- Pada periode Januari hingga Juli 2021, dilaksanakan beberapa workshop wisata berkelanjutan. Dalam workshop ini kita bersama sama mencoba mengajak pelaku wisata untuk mendiskusikan bersama bagaimana membangun perencanaan wisata berkelanjutan secara partisipatif. Beberapa output atau capaian dari kegiatan workhsop ini adalah ringkasan isu dan tantangan pengelolaan kegiatan wisata yang terjadi saat ini, rumusan kegiatan-kegiatan solusi dalam mengatasi beberapa aspek pengelolaan yang meliputi aspek lingkungan dan sumber daya alam, tata kelola kegiatan wisata, sumber daya manusia, dan sarana prasarana. Dalam menjawab solusi tersebut, tim bersama sama mencoba mengidentifikasi hal -hal apa yang menjadi prioritas dalam upaya menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan. Di satu sisi, disepakati juga pengaturan kunjungan berdasarkan kajian daya dukung, SOP wisata berkelanjutan dan forum komunikasi wisata berkelanjutan sebagai mekanisme dalam mengawal perencanaan dan mengatur pembagian peran bersama antara Taman Nasional, Pelaku Wisata, dan Pemerintah Daerah.
Beberapa pembelajaran berhasil didapat antara lain adalah :
1.Keterlibatan dan partisipasi masyarakat memainkan peran kunci di dalam membantu melaksanakan kegiatan perencanaan wisata berkelanjutan melalui kegiatan pengawasan, pengumpulan data dan informasi kunjungan serta kesepakatan pengaturan kunjungan.
2. Pengaturan jumlah kunjungan dan mekanisme buka tutup kawasan menjadi opsi pilihan di dalam melakukan pengelolaan kegiatan wisata di TN Karimunjawa.
3. Aturan lokal melalui kesepakatan bersama masyarakat dirasa lebih efektif sebagai mekanisme pengendalian dan pengelolaan wisata dan perikanan di TN Karimunjawa
Panorama Hutan Mangrove di TN Karimunjawa









