Pentingnya Daerah Perlindungan laut dalam melindungi sumberdaya pesisir di Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Kepulauan Tanimbar merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara Barat, kepulauan ini merupakan hasil pemekaran dari Maluku Tenggara. Kepulauan Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat termasuk dalam relung Ekoregion Laut Banda dan berada pada jalur perairan yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, sehingga menjadi salah satu jalur migrasi penting bagi beberapa hewan megafauna laut yang kharismatik, seperti paus, penyu, lumba-lumba, dan lain-lain. Tingginya ancaman terhadap ekosistem pesisir seperti kegiatan penggeboman ditambah adanya ancaman perubahan iklim secara global, dan minimnya informasi terkait kondisi dan keragaman ekosistem pesisir, khususnya terkait kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Tanimbar menyebabkan terhambatnya tindak pengelolaan kawasan pesisir.

Pada Bulan Oktober tahun 2014 WCS (Wildlife Conservation Society) melakukan kajian terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Tanimbar. Hal ini merupakan salah satu komitmen WCS dalam mendukung program Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam upaya melindungi keberadaan ekosistem pesisir yang telah menetapkan target terbentuknya kawasan konservasi perairan di Indonesia dengan luas sebesar 20 juta hektar pada tahun 2020. Lokasi penelitian yang dipilih merupakan lokasi-lokasi yang mewakili masing-masing Kecamatan di Kepulauan Tanimbar dengan jumlah lokasi penelitian sebanyak 34.

Hasil kajian ini menemukan bahwa kekayaan genera karang yang meliputi karang keras dan karang lunak ditemukan sebanyak 68 genera yang berasal dari 17 famili genera karang. Hasil observasi di lapangan menemukan bahwa kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Tanimbar tergolong baik, dengan tutupan karang hidup berkisar 25-50%. Lokasi dengan tutupan karang keras kategori baik dijumpai pada 20 lokasi penelitian dengan nilai persentase tutupan karang hidup sebesar 50-75%. Lokasi dengan tutupan karang keras tertinggi adalah Frinun dengan nilai tutupan sebesar 71% dan terendah di lokasi Nukaah sebesar 26%. Meskipun lokasi Nukaah memiliki nilai tu­tupan karang keras terendah, pada lokasi ini cukup banyak ditemukan tutupan karang lunak. Tim peneliti juga menemukan kondisi karang yang rusak pada kedalaman dangkal hingga dalam umumnya karang yang rusak merupakan dampak dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan yang dilakukan oleh beberapa nelayan luar pada tahun 90-an seperti peng­gunaan bom dan racun ikan (sianida) untuk menangkap ikan yang diyakini masih berlang­sung di wilayah perairan di sekitar Kecamatan Tanimbar Utara.

Hasil temuan lainnya menunjukkan kekayaan jenis ikan karang teridentifikasi sebanyak 505 spesies yang berasal dari 48 famili dan 165 genus ikan karang. Sedangkan Kelimpahan dan biomassa ikan karang berbeda secara signifikan antara transek dalam (lereng terumbu) dan transek dangkal (rataan terumbu). Pada perairan lereng terumbu, kelimpahan dan biomasa ikan karang lebih besar. Nilai rata-rata kelimpahan di lereng terumbu adalah dua kali lipat lebih besar, yaitu sebesar 25070,78 no.ha-1 sedangkan di rataan terumbu sebesar 11.833,92 no.ha-1. Demikian juga dengan biomassa, di perairan lereng terumbu (1.743,16 kg.ha-1) bahkan hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan dengan di perairan rataan terumbu (436,64 no.ha-1). Lokasi dengan kelimpahan ikan karang tertinggi di Tanimbar adalah Labobar sebesar 38103,33 no.ha-2, dan biomassa ikan karang tertinggi tercatat dari Welmasa dengan nilai 2779 kg.ha-1. Sedangkan, baik kelimpahan dan biomassa ikan karang terendah teramati di Tanjung Kormomolin dengan nilai kelimpahan sebesar 5640 no.ha-2 dan biomassa 214,66 kg.ha-1. Hasil temuan kunci lainnya menunjukkan komunitas ikan karang cenderung didominasi oleh kelompok ikan planktivore dan omnivore. Sementara itu, kelompok ikan karnivore dan herbivore yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis tinggi, memiliki nilai kelimpahan yang relatif kecil baik di perairan lereng terumbu maupun di rataan terumbu.

Rendahnya kelimpahan kedua kelompok ikan ini disebabkan belum adanya peraturan men­genai kegiatan perikanan seperti pengaturan alat tangkapan dan ukuran hasil tangkapan yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penangkapan berlebih (over fishing). Hasil penggamatan berdasarkan beberapa parameter ekologi  menunjukkan lokasi-lokasi di Kecamatan Wertamrian, Wuarlabobar, dan Tanimbar Utara dapat dijadikan lokasi prioritas kawasan konservasi, mengingat banyaknya gugusan pulau dan akses yang mudah dijangkau pada lokasi-lo­kasi tersebut sehingga memudahkan adanya upaya pengawasan.

Perlindungan kawasan dengan sistem pengelolaan yang efektif, dipadu dengan pengaturan alat tangkap dan ukuran tangkap ikan di kepulauan Tanimbar merupakan kebutuhan yang penting untuk segera ditindaklanjuti, demi keberlangsungan sumberdaya terumbu karang di Tanimbar dan keberlanjutan pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat akan sumberdaya laut.. Selain itu pengelolaan perikanan berbasis adat (Sasi) perlu dilakukan secara efektif dimana dibeberapa desa sangat efektif dalam memperbaiki kondisi ekosistem namun dibeberapa desa justru tidak berjalan hal ini perlu ditindaklanjuti dengan penguatan kelembagaan yang ada.

Advertisements