Sekilas Tentang Penyu

Penyu lebih dikenal sebagai hewan purbakala yang memiliki bobot dan tubuh yang besar, ukurannya bisa mencapai kurang lebih dua meter dengan berat ratusan kilogram. Setiap ia bertelur ia bisa naik ke pantai 4-6 kali. Namun, tidak dapat dipastikan bahwa setiap kali ia naik ke pantai, ia pasti bertelur. Apabila ia tidak menemukan tempat yang bagus untuk bertelur, maka ia akan kembali ke laut.Indonesia boleh berbangga bahwa tujuh spesies penyu di dunia, enam diantaranya ditemukan di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Lekang/Abu-abu (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih (Natator deprestus). Spesies yang banyak ditemukan dan memiliki wilayah jelajah yang luas di perairan Indonesia adalah penyu hijau dan diikuti oleh penyu sisik..

Chelonia mydas, atau yang biasanya dikenal dengan nama penyu hijau adalah penyu laut besar yang termasuk dalam keluarga Cheloniidae. Mereka hidup di semua laut tropis dan subtropis, terutama di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Namanya didapat dari lemak bewarna hijau yang terletak di bawah cangkang mereka. Jumlah Penyu Hijau semakin berkurang karena banyak diburu untuk diambil pelindung tubuhnya (karapaks dan platron) sebagai hiasan, telurnya sebagai sumber protein tinggi dan obat, juga dagingnya sebagai bahan makanan. Berbagai bentuk kegiatan penangkaran dilakukan sebagai upaya mengkonservasi hewan ini. Salah satu tempat lokasi migrasi penyu yang saya pernah datangi adalah Pulau Samber Gelap yang merupakan salah satu jalur 2 jenis penyu , yaitu penyu belimbing dan penyu hijau. Di tempat ini sebagian penyu dilakukan upaya konservasi dengan cara melakukan pembesaran dan pelepasan tukik dan sebagian lainnya dimanfaatkan secara ekonomi.

Image

Tukik dari jenis penyu belimbing

Image

Image

Advertisements

Status Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Lombok

Perairan Indonesia, adalah salah satu pusat keragaman hayati bawah laut dunia. Kawasan yang masuk ke dalam Segitiga Terumbu Karang Dunia atau Coral Triangle Center ini merupakan rumah bagi sekitar 76% spesies terumbu karang dunia.

Salah satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok yang termasuk kedalam Provinsi NTB merupakan pintu gerbang ke kawasan Wallacea yang memiliki keragaman spesies yang tinggi dengan tingkat endemisitas yang tinggi dan dilewati oleh arus lintas Indonesia yang membawa massa air, plankton, dan larva dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Namun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut membawa potensi masalah pada sebagian wilayah pada masing-masing kabupaten di wilayah Lombok seperti aktivitas sosial ekonomi pada daerah hulu akan menimbulkan berbagai dampak terhadap ekosistem pada daerah tengah maupun hilir, antara lain sedimentasi perairan, tingkat kekeruhan air, erosi, dan pencemaran.

©WCS-IP

Menanti status kawasan yang lebih tegas demi menjaga keindahan terumbu karang yang tersisa. Foto: WCS

Selain itu kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun masih banyak ditemukan. Permasalahan tersebut belum tertanggulangi karena lemahnya penegakan hukum dan minimnya informasi terkini terkait kondisi dan keragaman ekosistem pesisir dan laut di wilayah ini, khususnya yang berkaitan dengan data ekosistem terumbu karang.

Pada tahun 2012, Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program melakukan kajian ekologi terumbu karang di Kabupaten Lombok Utara dalam upaya mendukung pengelolaan kawasan konservasi perairan nasional Taman Wisata Perairan Gili Matra. Kemudian pada tahun 2013, WCS melanjutkan kajian ekologi terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Kegiatan survei ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juni – 30 Juni 2013 di 35 titik pengamatan yang mewakili perairan Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah.  Kegiatan survei ekologi ini merupakan bagian dari komitmen WCS untuk mendukung program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan dan pengelolaan perikanan berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Hasil kajian ini menemukan bahwa kekayaan ekosistem terumbu karang di pulau Lombok, terdiri dari 66 genera karang keras yang berasal dari 17 famili karang keras. Secara umum kondisi ekosistem terumbu karang di perairan pulau Lombok mengalami kerusakan, hasil observasi menemukan bahwa  tutupan substrat terumbu karang di Pulau Lombok didominasi oleh karang mati beralga sebesar 42,62%, sedangkan tutupan karang keras hanya sebesar 29,52%. Lokasi dengan tutupan karang keras tertinggi ditemukan di Kabupaten Lombok Barat sebesar 35.52%, sedangkan yang terendah ditemukan di Kabupaten Lombok Utara sebesar 22,78%.

WCS_CRS_Lombok-3

Secara umum terumbu karang di Pulau Lombok telah mengalami kerusakan. Foto: WCS

Selain itu tim peneliti juga menemukan salah satu jenis karang endemik Indonesia tepatnya tersebar di wilayah Lesser Sunda yaitu Acropora suharsonoi. Sampai saat ini the International Union for Conservation of Nature (IUCN) merilis bahwa jenis karang tersebut baru ditemukan di wilayah Bali bagian barat, Bali bagian timur, dan Gili Matra Lombok. Dengan temuan tersebut mudah-mudahan misteri keanekaragaman hayati laut di Lombok terus terungkap.

Selanjutnya, tim peneliti WCS menemukan bahwa biomassa ikan karang di Pulau Lombok sebesar 541,85 kg per hektare.  Lokasi dengan biomassa ikan karang tertinggi ditemukan di Kabupaten Lombok Barat sebesar 818,43 kg per hektare, hal ini menunjukkan bahwa Pulau Lombok memiliki potensi perikanan karang yang tinggi dibandingkan beberapa wilayah di Indonesia, Ujar Shinta T. Pardede selaku peneliti ikan karang WCS.

Peneliti juga mencatat sebanyak 578 spesies yang berasal dari 162 genera dan 49 famili ikan karang yang ditemukan selama survei. Berdasarkan kelompok trofik, hampir 80% ikan karang di perairan Lombok didominasi oleh planktivora dan omnivora, yaitu kelompok ikan yang mayoritas dari famili Caesionidae (ekor kuning dan pisang-pisang), Pomacentridae (betok laut) dan Labridae (keling-kelingan), kecuali di Kabupaten Lombok Tengah.

Pulau Lombok memiliki potensi perikanan karang yang tinggi, disisi lain terdapat ancaman terhadap degradasi ekosistem terumbu karang.  Hal ini terlihat dari kerusakan habitat terumbu karang yang cukup besar, meninggalkan hamparan padang pecahan karang yang luas di hampir 40% luasan terumbu karangnya. Kondisi ini merata hampir di semua kabupaten di Pulau Lombok.  Praktek penangkapan ikan dengan bom dan racun, diduga merupakan salah satu faktor utama penyebab kerusakan ini.

Efektivitas pengelolaan TWP Gili Matra sebagai kawasan konservasi perairan nasional dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan telah berada pada tahap dikelola minimum.  Demikian pula dengan Kabupaten Lombok Timur dengan adanya KKPD Gili Lawang dan Gili Sulat, KKPD Gili Petagon, serta lokasi Suaka Perikanan di Sapakoko, Gili Rango, Taked Pedamekan, Gusoh Sandak, dan Taked Belanting.

WCS_CRS_Lombok-1

Foto: WCS

Sebagian besar kawasan tersebut masih pada tahap diinisiasi.  Sementara itu, kawasan konservasi perairan di Kabupaten Lombok Tengah sudah berada dalam tahap didirikan untuk menjadi TWP Teluk Bumbang. Keunikan dan pesona laut Lombok Tengah memberikan kekhasan tersendiri untuk dikelola sebagai objek wisata, sedangkan potensi perikanan budidaya lobster dan rumput lautnya merupakan salah satu aset nasional yang sangat penting.

Untuk dapat mengelola sumberdaya yang ada di kawasan TWP Teluk Bumbang, penetapan status kawasan berdasarkan landasan hukum yang sesuai dan pengembangan sistem pengelolaan yang terpadu merupakan dua elemen penting pengelolaan kawasan konservasi yang perlu segera ditindaklanjuti oleh pengelola kawasan. Selain itu, diperlukan juga dukungan penuh dari berbagai elemen terkait untuk dapat mencapai pengelolaan TWP Teluk Bumbang yang efektif.

Kabupaten Lombok Barat juga memiliki potensi cukup tinggi dalam hal sumberdaya pesisir dan laut maupun keragaman hayatinya, kawasan ini masih berada dalam tahap inisiasi kawasan konservasi perairan daerah (KKPD). Sementara hasil survei menunjukkan bahwa lokasi di sekitar Gili Gede, Gili Renggit, Gili Layar, sampai ke Bangko-bangko juga memiliki nilai penting secara ekologis.  Hal ini terlihat dari  keragaman jenis karang dan ikan karang yang tinggi, serta kondisi substrat dan komunitas ikan karang yang sangat baik.  Lokasi ini memiliki nilai estetika lingkungan yang tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari.

Sebagai bagian dari jejaring kawasan konservasi perairan di ekoregion laut Sunda Kecil dan Segitiga terumbu karang, usaha pelestarian terumbu karang di Lombok harus terus dikembangkan, baik dalam hal meningkatkan kesadartahuan masyarakat, menjembatani kepentingan setiap pengguna sumberdaya, juga dalam hal monitoring, pengawasan, dan penegakan hukum.

Sumber : Aji Wihardandi

Artikel tersebut dapat dibaca juga pada link berikut : http://www.mongabay.co.id/2014/01/27/ekosistem-terumbu-karang-pulau-lombok-menanti-status-legalitas-kawasan/

Menyaksikan penyu bertelur di Pulau Samber Gelap

Pulau Samber Gelap yang memiliki pantai berpasir putih

Pulau Samber Gelap yang memiliki pantai berpasir putih

Hari itu cuaca cukup cerah dimana langit terlihat cerah dengan ratusan bintang, Pak Rahmadi penjaga pulau tersebut mengatakan bahwa setiap malamnya pada pukul 22.00-23.00 WIT merupakan waktu penyu betina untuk naik ke darat untuk melakukan kegiatan bertelur dimana pada waktu tersebut air laut sedang surut-surutnya. Malam harinya pada pukul 23.00 saya bersama Pak Rahmadi dan teman-teman mulai mengelilingi pantai untuk mengecek apakah pada malam ini akan ada penyu betina yang naik ke permukaan untuk bertelur. Seperti yang sudah kita ketahui, penyu betina naik ke pantai untuk bertelur. Dengan kaki depannya, mereka menggali lubang untuk meletakkan telur-telurnya. Kemudian mereka mengisi lubang itu dengan telur-telurnya sebanyak kurang lebih 100 butir (bahkan mungkin lebih). Kemudian mereka dengan hati-hati menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakan pasir tersebut untuk menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya. Setelah proses melelahkan ini selama kurang lebih 1-3 jam berakhir, mereka kembali ke laut. Sekedar informasi, Pulau Samber Gelap yang saya datangi merupakan lokasi yang berada di wilayah Kalimantan Selatan dan merupakan salah satu ruaya (jalur) penyu untuk melakukan peneluran.

Senter Pak Rahmadi mengarahkan kami pada lokasi pertama, saya melihat sebuah jejak yang cukup jelas terlihat, kami pun menyelidiki ke mana jejak tersebut, sambil mencari dan meraba kondisi sekitar yang cukup gelap. Rupanya pada pencarian kami yang pertama si penyu sudah turun kembali ke laut.

Kami pun mulai kembali berjalan mengelilingi pulau, pada pencarian kami yang kedua kami pun menemui penyu hijau, lantas senter dan suara kaki perlahan kita hilangkan, seperti yang kita ketahui bahwa suara dan cahaya yang terlalu terang dapat menganggu dan menghentikan aktifitas penyu ketika bertelur. Penyu Hijau yang kami temui ternyata sudah melakukan aktifitas bertelur, kami terlambat setengah jam dari waktu awal, tapi tak mengapa saya bisa menyaksikan ternyata ukuran penyu yang bertelur ini memiliki ukuran yang cukup besar dengan ukuran 60-80 cm, sangat berbeda jauh ukuran dengan yang saya jumpai ketika menyelam.

Penyu Hijau yyang ditemui sehabis kegiatan bertelur

Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang ditemui sehabis bertelur

Selesai bertelur, maka penyu betina pun bersiap pulang kembali menuju laut

Selesai bertelur, maka penyu betina pun bersiap pulang kembali menuju laut

Esok paginya pukul 10.00 WIT  kami kembali menyusuri lokasi tempat ditemukannya penyu bertelur untuk mengambil telur tersebut. Telur yang dijumpai tersebut tidak terlalu banyak umunya penyu bertelur hingga ratusan, namun pada pagi harinya hanya ditemukan 60-70 telur penyu yang bertelur pada lokasi yang kami sambangi.

puluhan penyu yang ditemukan di sarangnya

puluhan telur penyu yang ditemukan di sarangnya

Setiap telur yang dikumpulkan dihargai Rp 2.000 untuk telur penyu sisik dan Rp 4.000 untuk telur penyu hijau, usaha pemanfaatan perlu diimbangi juga melalui usaha konservasi yang berkelanjutan. Setiap tahunnya 700 hingga ribuan tukik dilepaskan ke laut sebagai ganti dari kegiatan perdagangan telur penyu tersebut.

Tukik penyu sisik yang dikonservasikan

Tukik (anakan) penyu sisik yang dikonservasikan untuk dilepaskan di Pulau Samber Gelap

100_0585

tukik penyu hijau yang dikonservasikan

Penyu sendiri telah terdaftar dalam daftar Apendik I Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna Spesies Terancam (Convention on International Trade of Endangered Species – CITES). Konvensi tersebut melarang semua perdagangan internasional atas semua produk atau hasil yang berasal dari penyu, baik itu telur, daging, maupun cangkangnya. Sehingga pemanfaatan daging dan telurnya perlu dilakukan juga usaha konservasi bersama.

Kegiatan transplantasi karang di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Kegiatan transpantasi merupakan salah satu upaya konservasi untuk menumbuhkan kembali komunitas terumbu karang yang rusak dengan maksud tujuan ekosistem yang rusak tersebut dapat pulih kembali dengan adanya individu biru. Kegiatan trasnplantasi saya lakukan pada saat adanya kegiatan praktek kerja lapang yang saya lakukan bersama kelompok PERNITAS yang bergerak dalam usaha budidaya karang hias bersama yayasan TERANGI.

Alat dan Bahan yang digunakan

            Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama berlangsungnya kegiatan praktek kerja lapangan.  Data mengenai  alat dan bahan yang digunakan dalam program transplantasi karang adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Alat yang digunakan dalam metode Transplantasi Karang

Alat

Kegunaan

Peralatan selam

Pemasangan Substrat F0 pada paralon

Wadah sample

Tempat menyimpan karang yang telah dipotong

perahu

Transportasi

Jangka sorong

Pengukur pertumbuhan karang

Pemotong karang (tang)

Pemotong karang yang digunakan untuk F0

Frame Paralon

Sebagai tempat menyimpan frame karang

Jaring dengan mesh 2,2 X 2,2 cm

Mengikatkan karang pada Frame Paralon

Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam metode transplantasi karang

Bahan

Kegunaan

Semen

Substrat menyimpan karang

Sample Karang hidup

Sebagai bibit indukan

    Langkah- langkah teknik Transplantasi Karang

Transplantasi merupakan suatu teknik penanaman dan pertumbuhan koloni karang baru dengan metode fragmentasi, dimana benih karang diambil dari suatu induk koloni tertentu. Transplantasi karang memiliki tujuan untuk mempercepat regenaerasi terumbu karang yang telah mengalami kerusakan atau untuk memperbaiki daerah terumbu karang yang rusak, terutama untuk meningkatkan keragaman dan persen penutupan ( Hariot dan Fisk, dalam Departemen Kelautan Perikanan  2002 ).

Langkah- langkah kegiatan transplantasi karang yang diamati oleh praktikan selama kegiatan PKL adalah sebagai berikut :

 Penyusunan rak, jaring, dan substrat untuk  tahap F0—>Persiapan bibit fragmen untuk F0—->Pemasangan fragmen pada Substart F0—->Fragmen F0 (induk) disusun di laut—>Fragmen F0 yang telah tumbuh siap dipotong kembali sebagai bibit baru—>Persiapan F1 (anakan)  dengan melakukan Tagging untuk mendandakan jenis karang

Penyusunan rak, jaring, dan substrat untuk tahap F0 (indukan)

Kegiatan penyusunan rak,  dan jaring  dilakukan dengan memilih media yang relatif datar, kedalamannya mendekati kedalaman pengambilan bibit transplantasi.  Rak yang digunakan terbuat dari bahan paralon kecil yang diisi semen dan cat agar tidak mengakibatkan pencemaran. Bentuk rangka yang digunakan sebaiknya berbentuk siku dengan ukuran 100 cm X 80 cm. Pengikatan substrat pada jaring berjarak kurang lebih 25 cm. Substrat yang digunakan dalam transplantasi karang adalah substrat yang terbuat dari bahan semen, substrat ini yang nantinya digunakan sebagai tempat tumbuhnya karang.

Persiapan bibit induk untuk fragmen F0

Kegiatan persiapan bibit induk ini dilakukan sebagai tahap untuk menyiapkan bibit baru, proses pengambilan bibit untuk indukan ini diambil dari tempat yang secara khusus sudah dibudidayakan untuk fragmen F0, sehingga tidak lagi mengambil langsung dari alam.. Persiapan bibit indukan ini dilakukan dengan cara memotong beberapa karang menggunakan Tang (pemotong karang)  yang nantinya digunakan sebagai indukan baru. Untuk ukuran koloni yang dijadikan bibit indukan tidak memperhitungkan baik besar, maupun kecilnya, biasanya untuk pengambilan bibit ini  menyisakan sebagian besar koloni . Sebagian besar koloni yang sudah dipotong dibuang di laut. . Sementara untuk  ukuran koloni yang dijadikan bibit indukan tidak memperhitungkan ukuran baik besar, maupun kecilnya.

Pemasangan fragmen F0 (induk ) pada substrat

Pada tahap ini fragmen karang yang telah dipotong menggunakan tang ditancapkan pada substrat yang telah dibuat menggunakan semen. Pada tahap ini karang ditancapkan pada substrat, lalu ditambahkan kembali menggunakan semen, sehingga hasil yang terlihat lebih rapi dan tidak mudah terkoyak oleh pergerakan arus.

Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengikatan bibit pada substrat adalah antara lain (Amir, 2005) :

  1. Pengikatan sebaiknya dilakukan di air
  2. Pengikatan yang dilakukan di permukaan air jangan terlalu lama ( Kurang lebih 20 menit )
  3. Bibit diikat seerat mungkin agar tidak koyah dan lepas
  4. Bagian bawah substart bibit menempel pada substrat dengan posisi tegak terikat erat pada patok substrat .

Selain itu pada tahap ini dilakukaan juga penandaan pada jenis karang yang ditransplantasikan menggunakan label permanen yang diletakkan diantara koral dan substrat. Label ini terbuat dari plastik keras/ kuat dengan tulisan tercetak di atasnya (Gambar 1).

0104Ac.fo2.00088

Gambar 1.Kode karang yang di transplantasikan

Keterangan :

01= Kode Perusahaan

04= Tahun Propagasi

Ac.fo= Acropora Formosa

2 = Level Propagasi, yaitu propagasi tahap 2

000088= Nomor kode individual koral

Label ini kemudian dikaitkan dengan plastik filamen dan diletakan pada koral yang tidak akan terlepar setelah pemasangan.

Fragmen F0 (induk) disusun di laut

Setelah pemasangan fragmen pada substrat F0 (induk ), maka fragmen  yang sudah ada disusun di laut dengan menggunakan rangka, dan jaring yang sudah dibuat di awal tadi. Proses pemilihan tempat di laut dipilih tempat yang relatif datar dengan kedalaman 3- 5 meter untuk memudahkan proses fotosintesis, sehingga karang dapat tumbuh dengan baik

Fragmen F0 (induk) yang telah tumbuh

Setelah menunggu fragmen F0 yang telah tumbuh dengan rentan waktu 4 bulan, karang ini siap menjadi indukan baru, yang nantinya dapat dihasilkan bibit- bibit anakan hasil dari transplantasi indukan. Untuk kriteria pemilihan bibit indukan untuk anakan dilakukan dengan melihat ukuran umur  indukan setelah berumur  4-6 bulan dimasukan dalam kategori 1, sementara umur 8- 12 bulan dimasukan dalam katagori 2 serta harus melalui BAP (Berita Acara Pemerikasaan )Taman Nasional Kepulauan Seribu

Persiapan F1( anakan ) dengan melakukan tagging untuk kegiatan produksi

Dari bibit indukan  proses dilanjutkan dengan penanaman bibit anakan hasil transplantasi dari fragmen F0 (induk) yang telah tumbuh. Di sini kita melakukan proses pembuatan substrat kembali,  melakukan kegiatan pengkodean  (tagging) untuk masing- masing jenis karang Setelah itu fragmen kembali disusun di laut . Setelah menunggu dengan rentan waktu 4 hingga 6 bulan karang yang sudah tumbuh dengan ukuran 6-9 cm siap diproduksi dengan melakukan packing menggunakan box besar.

Pada saat  proses packing ini karang yang dimasukan ke dalam box besar ini dibungkus plastik, serta ditambahkan es batu,  hal ini dimaksudkan karang yang berada di dalam box masih berada dalam kondisi suhu yang cukup sesuai, serta karang yang  akan dikirim tidak mangalami stres .

Harga yang dijual untuk satu individu koral berkisar antara Rp 10.000-  Rp 20.0000.