Pentingnya Daerah Perlindungan laut dalam melindungi sumberdaya pesisir di Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Kepulauan Tanimbar merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara Barat, kepulauan ini merupakan hasil pemekaran dari Maluku Tenggara. Kepulauan Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat termasuk dalam relung Ekoregion Laut Banda dan berada pada jalur perairan yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, sehingga menjadi salah satu jalur migrasi penting bagi beberapa hewan megafauna laut yang kharismatik, seperti paus, penyu, lumba-lumba, dan lain-lain. Tingginya ancaman terhadap ekosistem pesisir seperti kegiatan penggeboman ditambah adanya ancaman perubahan iklim secara global, dan minimnya informasi terkait kondisi dan keragaman ekosistem pesisir, khususnya terkait kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Tanimbar menyebabkan terhambatnya tindak pengelolaan kawasan pesisir.

Pada Bulan Oktober tahun 2014 WCS (Wildlife Conservation Society) melakukan kajian terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Tanimbar. Hal ini merupakan salah satu komitmen WCS dalam mendukung program Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam upaya melindungi keberadaan ekosistem pesisir yang telah menetapkan target terbentuknya kawasan konservasi perairan di Indonesia dengan luas sebesar 20 juta hektar pada tahun 2020. Lokasi penelitian yang dipilih merupakan lokasi-lokasi yang mewakili masing-masing Kecamatan di Kepulauan Tanimbar dengan jumlah lokasi penelitian sebanyak 34.

Hasil kajian ini menemukan bahwa kekayaan genera karang yang meliputi karang keras dan karang lunak ditemukan sebanyak 68 genera yang berasal dari 17 famili genera karang. Hasil observasi di lapangan menemukan bahwa kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Tanimbar tergolong baik, dengan tutupan karang hidup berkisar 25-50%. Lokasi dengan tutupan karang keras kategori baik dijumpai pada 20 lokasi penelitian dengan nilai persentase tutupan karang hidup sebesar 50-75%. Lokasi dengan tutupan karang keras tertinggi adalah Frinun dengan nilai tutupan sebesar 71% dan terendah di lokasi Nukaah sebesar 26%. Meskipun lokasi Nukaah memiliki nilai tu­tupan karang keras terendah, pada lokasi ini cukup banyak ditemukan tutupan karang lunak. Tim peneliti juga menemukan kondisi karang yang rusak pada kedalaman dangkal hingga dalam umumnya karang yang rusak merupakan dampak dari kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan yang dilakukan oleh beberapa nelayan luar pada tahun 90-an seperti peng­gunaan bom dan racun ikan (sianida) untuk menangkap ikan yang diyakini masih berlang­sung di wilayah perairan di sekitar Kecamatan Tanimbar Utara.

Hasil temuan lainnya menunjukkan kekayaan jenis ikan karang teridentifikasi sebanyak 505 spesies yang berasal dari 48 famili dan 165 genus ikan karang. Sedangkan Kelimpahan dan biomassa ikan karang berbeda secara signifikan antara transek dalam (lereng terumbu) dan transek dangkal (rataan terumbu). Pada perairan lereng terumbu, kelimpahan dan biomasa ikan karang lebih besar. Nilai rata-rata kelimpahan di lereng terumbu adalah dua kali lipat lebih besar, yaitu sebesar 25070,78 no.ha-1 sedangkan di rataan terumbu sebesar 11.833,92 no.ha-1. Demikian juga dengan biomassa, di perairan lereng terumbu (1.743,16 kg.ha-1) bahkan hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan dengan di perairan rataan terumbu (436,64 no.ha-1). Lokasi dengan kelimpahan ikan karang tertinggi di Tanimbar adalah Labobar sebesar 38103,33 no.ha-2, dan biomassa ikan karang tertinggi tercatat dari Welmasa dengan nilai 2779 kg.ha-1. Sedangkan, baik kelimpahan dan biomassa ikan karang terendah teramati di Tanjung Kormomolin dengan nilai kelimpahan sebesar 5640 no.ha-2 dan biomassa 214,66 kg.ha-1. Hasil temuan kunci lainnya menunjukkan komunitas ikan karang cenderung didominasi oleh kelompok ikan planktivore dan omnivore. Sementara itu, kelompok ikan karnivore dan herbivore yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis tinggi, memiliki nilai kelimpahan yang relatif kecil baik di perairan lereng terumbu maupun di rataan terumbu.

Rendahnya kelimpahan kedua kelompok ikan ini disebabkan belum adanya peraturan men­genai kegiatan perikanan seperti pengaturan alat tangkapan dan ukuran hasil tangkapan yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penangkapan berlebih (over fishing). Hasil penggamatan berdasarkan beberapa parameter ekologi  menunjukkan lokasi-lokasi di Kecamatan Wertamrian, Wuarlabobar, dan Tanimbar Utara dapat dijadikan lokasi prioritas kawasan konservasi, mengingat banyaknya gugusan pulau dan akses yang mudah dijangkau pada lokasi-lo­kasi tersebut sehingga memudahkan adanya upaya pengawasan.

Perlindungan kawasan dengan sistem pengelolaan yang efektif, dipadu dengan pengaturan alat tangkap dan ukuran tangkap ikan di kepulauan Tanimbar merupakan kebutuhan yang penting untuk segera ditindaklanjuti, demi keberlangsungan sumberdaya terumbu karang di Tanimbar dan keberlanjutan pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat akan sumberdaya laut.. Selain itu pengelolaan perikanan berbasis adat (Sasi) perlu dilakukan secara efektif dimana dibeberapa desa sangat efektif dalam memperbaiki kondisi ekosistem namun dibeberapa desa justru tidak berjalan hal ini perlu ditindaklanjuti dengan penguatan kelembagaan yang ada.

Explore Indonesia : Pulau yang terlupakan, Maluku Barat Daya

Maluku Barat Daya

Maluku Barat Daya

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang sangat besar, wilayah perairan laut yang luas serta potensi pulau-pulau kecilnya  merupakan salah satu keuntungan tersendiri, di satu sisi akses, sarana dan prasarana yang terbatas mungkin masih menjadi satu permasalahan klasik wilayah di Indonesia timur

Pulau yang terlupakan begitulah kesan yang saya dapat ketika menyusuri pulau-pulau kecil di sekitar Maluku Barat Daya. Maluku Barat Daya sendiri merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

This slideshow requires JavaScript.

Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama WWF Indonesia, Wildlife Conseration Society Indonesia Program dalam rangka  penilaian kawasan konservasi perairan untuk perikanan berkelanjutan. Beberapa aspek yang diukur adalah kelimpahan dan biomassa ikan karang serta tutupan karang hidup, selain itu diukur juga reef rugosity untuk melihat secara lebih mendetail terkait kondisi perairan di Maluku Barat Daya. Dalam kegiatan ini saya juga bernostalgia dengan kawan lama saya Taufik dimana terakhir kita melakukan penyelaman bersama di tahun 2009 dalam  kegiatan XPDC Biak ketika berstatus sebagai mahasiswa.

Tipe perairan yang cukup dalam menandakan khas perairan laut banda dengan tipe karang yang membentuk dinding atau wall yang dimulai dari kedalaman 5 hingga 6 meter merupkan hal yang menarik yang kita temukan,  kondisi demikian menjadikan lokasi tersebut umumnya terhindar dari kegiatan yang merusak seperti pengeboman selain itu pergerakan arus serta pertemuan dua massa air yang berbeda  menjadikan perairan kaya akan produktivitas plankton, betapa tidak kami menjumpai banyak sekali jenis ikan setiap kali penyelaman, bahkan ikan napoleon (Cheilinus undulatus, hiu baik jenis white thip dan black thip hampir  terdata di setiap kali penyelaman. Tercatat pula di satu titik bernama Magic corner kami menjumpai satu ekor hiu martil  (Hammerhead shark). Satu lokasi lain bernama  Jagatutun kami jumpai ratusan schooling ikan kakap tak lama kemudian scholling barracuda pengalaman menakjubkan bagaimana si ikan ini relatif cukup dekat kurang lebih 2 meter di atas kepala saya, kesempatan ini tak saya sia-siakan untuk menggambil beberapa foto.

Akses yang sulit untuk menuju pulau ini mungkin menjadi salah satu alasan lokasi ini terisolir dari dampak-dampak kegiatan yang merusak, namun di satu sisi akses yang sulit juga menjadi salah satu persoalan lain terkait kebutuhan dan masyarakat pesisir. Itulah sedikit gambaran mengenai kondisi pulau-pulau di Indonesia yang cukup jauh dan sulit untuk di akses sebagaimana janji pemerintah yang akan mencoba menggalihkan sebagian subsidi BBM untuk pembangunan sarana dan prasarana di pulau-pulau wilayah Indonesia. Semoga bukan hanya sekedar wacana sehingga pulau-pulau kecil kita sedikit mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat, khususnya kepada masyarakat pesisir.

Kondisi karang dan ikan karang yang masih cukup baik menandakan sedikitnya gangguan dari aktifitas manusia, upaya konservasi merupakan salah satu solusi jangka panjang agar bisa dimanfaatkan secara lestari

Cara-cara dan upaya pelestarian laut merupakan salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan sumberdaya hayati laut untuk masa depan, pembentukan suatu kawasan konservasi mutlak diperlukan sebagai kawasan bagi perlindungan parsial atau total terhadap eksploitasi manusia, yang tidak kalah pentingnya adalah pembentukan suatu kawasan perlindungan juga harus memperhatikan pendekatan berbasis masyarakat karena pada akhirnya masyarakat pesisir jugalah yang nantinya memanfaatkan hasil tangkapan sebagai mata pencaharian untuk dimanfaatkan sendiri atau untuk dijual kembali.

———————————————————————————————————————————

Pic Talk : dari Alor menuju Flores

Bulan April 2014, seperti biasa lautan biru kembali menyapa dan memanggil, kali ini Alor dan Flores telah menanti untuk diselami. Kegiatan ini bertajuk Ekspedisi penelitian terumbu karang dalam rangka penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan. di sini saya berbagi sedikit foto hasil kegiatan kemarin.

——————————————————————————–

In April 2014, as usual the ocean blue return summoning again, this time Alor and Flore have been waited for diving. This activity is named  research expedition in order the assesment of the effectiveness of marine conservation area. Here is my picture

Itulah sedikit keindahan tentang Alor salah satu pesolek di Nusa Tenggara Timur Indonesia

Explore Indonesia : Alor

          This is a next story from my activities when i were joined as a marine fish collector in Alor Expedition with WWF-Indonesia on March 2014. This survey is aimed to record the marine biodiversity of corals and fishes and also assess the overall health of the reefs to help identify areas of importance for conservation, surely from this survey we will establish for Marine Protected Area (MPA) as you know MPA will improve of coral reefs from destructive fishing and protect of coastal area include the marine biota that lives in the inside of that area. We start the journey from Kalabahi on 13 March 2014 and end the journey on 1 April in Kalabahi too, so in this journey we surrounded Alor and East Flores.

20140329_085210

a dinggih small boat from Minami Vessel

IMG_4413

Coral reef monitoring survey

Beautiful Sunset in Alor

Beautiful Sunset in Alor

   In this survey we collect the data for benthic substrate with Point Intercept Transect (PIT) and visual sensus survey for abundance and biomass of reef fish.  This is amazing experience, because we take activity with 3 dives/day, sometimes 4 dives/day with the number 72 site, so we must to keep the body to stay health. along the journey sometimes we saw a group of cetacean (lumba-lumba) swim around the boat and look pursue each other.

???????????????????????????????

Sunset on Minami Boat

     From a several observation we found a damage of coral reef  mostly the damage of coral reef is caused from the destructive fishing likes the location at Lato village, East Flores, mostly this event is caused by human who use some tools (likes bombing or potasium) to get catch fish more, but this way is very damage because the bomb are thrown by human will burst in underwater and it will destroy of ecosystem of coral reef, and finally the fish would be hard to was captured anymore.  The other condition that must be attention is strong current as you know Alor having of their geographical location that is surrounded by the strait, sometimes after we finishing to collect the data, there are some condition with strong current so we must to exit from the water and then  exit on the beach to keep safely. Sometimes  on the location with strong current likes that one (Tanjung Batu Payung) we saw many gorgonian sea fans, soft corals and also SHARK this is amazing when i saw 5 shark mostly (white thip shark) on The Tanjung Batu Payung, this location is very unique with many groupers, pelagic fish,  on the 15 m depth and also the visibility is very good and clear with a condition of substrat slope approached wall.

I successfully landed on the mainland

I successfully landed on the mainland

   The data that we gather now can be considered as baseline data, as it is obtained before the KKPD comes into full force, and by comparing our data with future data to be collected in the coming years, we can measure periodic changes taking place in each sampling site.

* This service on the Menami boat is very amazing particulary about the meal, honestly i would never have expected to be able to eat such vegetable, milk and everything is prepared by our chief, and the fact my body weight is increased.!!

Sumbawa is a part Lesser Sunda Seascape

       Indonesia Waters especially in region Sumbawa Besar and West Sumbawa district are one of region that was included in a part of lesser sunda seascape. This region was loccated in coral reef triangle that have high biodiversity area and habitat for 76 % species of coral reef. In the region there are some activities of fisheries utilization in coastal area and some threat like a destructive fishing using a fish bombing gear that was made by a fisherman especially in region small island in Sumbawa Besar and West Sumbawa district. The problems have not been finished directly by local government, so we need news information about condition of coastal area especially about the condition of coral reef. In June 2014 Wildlife Conservation Society (WCS) do a cooperation with local government of Marine and Fisheries agency from Sumbawa Besar and West Sumbawa district with number 30 sampling area location to assesment condition of coral reef in Sumbawa Besar and West Sumbawa. This activitiy is one of comitment WCS to support program Ministry of Marine and Fissheries to increase the management effectiveness Marine Protect Area and management of sustainable fisheries .
In Sumbawa Besar area especially in Saleh Bay like Liang island, Ngali island and Moyo island. The result of survey has found damaged from coral reef, the damage was found from destructive fishing like bombing fishing gear (Figure 1). We find a break out from coral reef and many of coral reef shows died with colour dark in several location. The damage of coral reef are found in 4-5 meter depth, some predation also was found by Crown of Throne (COT) (Figure 2) with characterized by loss of tissue of coral and the colour of coral is white and some COT also was found on area of observation, meanwhile in Moyo island mostly the condition of coral reef is covered by algae and rubble. Generally the condition of coral reef in Liang, Moyo and Ngalih island is damaged although we still found a location with good condition from coral cover like in north of Ngali Island (Figure 3). Some of the growth of coral recruit quite a lot of found on area observation shows the efforts on an ecosystem the recovery of coral reefs. In addition we also find species of coral reef endemic in lesser sunda seascape namely Acropora suharsonoi (figure 4), this species is one kind of coral reef that has been found in Bali and Lombok island.

Moyo 2 (33)

Figure 1. Activities desctructive fishing found on observation

Figure 2. Some predation COT still found on observation

Figure 2. Some predation COT still found on observation

??????????????????????

Figure 3. The good of coral cover was found at North Ngali

Utara Pulau Ngali (67)

Figure 4. Species endemic of coral Acropora suharsonoi was found on area observation

                 For community of reef fish generally has been found species dominant from omnivore fishes family Pomacentridae. Several kind of family chaetodon, Acanthuridae, Scarinae-famiily of Labridae and some kind from carnivore fish like Serranidae, and Haemulidae have been found very abit. The kind of that reef fish are one of parameter condition of marine ecosystem is good, so we need to keep the species because the total from three family is very abit. Generally the water condition of Liang, Moyo and Ngali Islands have a type slope and the water condition are protected from wave and wind and very quiet condition. This condition make a community who lives in coastal area develop Seaweed cultivation. The result from ecological infomation is needed by local government to establish Marine Protected Area to central government. The support from community and local government is very important to increase the management effectiveness marine protect area to ensure sustainable fisheries.

Alor-Kapal Minami-Expedition

23 Mei 2014

Hello Buddy selamat sore baru menyempatkan lagi untuk berbagi cerita. yap cerita tentang satu perjalanan pertama saya DIVE dengan jumlah lokasi penyelaman hingga 60an titik. pengalaman yang excited oh iya ini pertama kalinya juga penyelaman dan aktivitas dilakukan seluruhnya di kapal alias Live a Boat!!!

Kegiatan ini merupakan salah satu inisiasi kerjasama yang dilakukan oleh World Wildlife Fund Indonesia dan Wildlife Conservation Society Indonesia dalam upaya penggumpulan data ekologi terumbu karang sebagai upaya dalam penilaian kawasan konservasi perairan yang dilakukan selama kurang lebih hampir sebulan mulai dari tanggal 3 Maret dan berakhir pada tanggal 30 Maret. Secara keseluruhan kegiatan ini juga  bekerja sama dengan Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Balai Riset Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia serta Dinas Kelautan Kabupaten Alor dan Flores Timur.

Kapal Menami yang dibawa langsung oleh WWF

Kapal Menami yang dibawa langsung oleh tim WWF

Kapal yang akan kita gunakan sebagai live a boat adalah kapal Menami Kapal Menami, kapal kayu berukuran 63 GT didatangkan langsung oleh WWF dari basenya di Wakatobi merupakan kapal yang digunakan dalam perjalanan kita menggarungi perairan Alor hingga Flores Timur. Nama Menami mempunyai arti ikan napoleon dalam bahasa orang Wakatobi.

Hari pertama penyelaman dilakukan pada pulau Ternate, kita membagi menjadi dua tim, yaitu tim A dan tim B setiap masing-masing tim memiliki peran sebagai Coral reef Ecologist, Reef fish specialist dan sebagai roll master. Pada penyelaman pertama kita memilih lokasi di Pulau Ternate. Pulau ini secara geografis menampilkan bentang alam yang cukup indah seperti gunung kecil yang terbenam di tengah lautan.

Pulau Ternate (credit foto oleh Nara)

Pulau Ternate (credit foto oleh Nara)

Hari pertama cuaca cukup cerah ditemani oleh panasnya sinar matahari  kami pun turun menyelam, takjub saya langsung melihat hiu black thip dengan ukuran 60 cm, masih cukup kecil saya bilang, penyelaman ini dilakukan pada kedalaman kurang lebih 8 meteran, saya berperan sebagai pengumpul data ikan karang sementara teman saya Tutus dari WWF berperan sebagai penggambil data ikan karang ukuran besar. Kondisi perairan memang khas perairan timur dengan kecerahan yang cukup baik serta kondisi arus yang relatif cukup tenang untuk diselami.

Pecahan Karang pada lokasi A di Pulau Ternate

Pecahan Karang pada lokasi A di Pulau Ternate

Tim B bersiap turun di Pulau Ternate (credit foto oleh Bang Ubun)

Tim B bersiap turun di Pulau Ternate (credit foto oleh Bang Ubun)

Credit Foto Oleh Bang Ubun

Terumbu Karang Pulau Ternate (Credit Foto Oleh Bang Ubun)

Pulau Ternate (Credit foto oleh Bang Ubun)

Pulau Ternate (Credit foto oleh Bang Ubun)

Pada titik ini masih terlihat ada banyak kerusakan karang sepertinya dugaan destruktif fishing yang masih marak dilakukan. Hal yang berbeda ditemukan pada lokasi penyelaman tim B, saya merasa takjub. Indah begitulah kesan pertama yang ada di benak kepala saya dan inilah satu cerita saya tentang Alor  (Sayang saya tidak memegang kamera hehe pastinya saya masih akan cerita banyak tentunya masih seputar kegiatan penyelaman di Alor )

 

 

Sekilas Tentang Penyu

Penyu lebih dikenal sebagai hewan purbakala yang memiliki bobot dan tubuh yang besar, ukurannya bisa mencapai kurang lebih dua meter dengan berat ratusan kilogram. Setiap ia bertelur ia bisa naik ke pantai 4-6 kali. Namun, tidak dapat dipastikan bahwa setiap kali ia naik ke pantai, ia pasti bertelur. Apabila ia tidak menemukan tempat yang bagus untuk bertelur, maka ia akan kembali ke laut.Indonesia boleh berbangga bahwa tujuh spesies penyu di dunia, enam diantaranya ditemukan di perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Lekang/Abu-abu (Lepidochelys olivacea), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih (Natator deprestus). Spesies yang banyak ditemukan dan memiliki wilayah jelajah yang luas di perairan Indonesia adalah penyu hijau dan diikuti oleh penyu sisik..

Chelonia mydas, atau yang biasanya dikenal dengan nama penyu hijau adalah penyu laut besar yang termasuk dalam keluarga Cheloniidae. Mereka hidup di semua laut tropis dan subtropis, terutama di Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Namanya didapat dari lemak bewarna hijau yang terletak di bawah cangkang mereka. Jumlah Penyu Hijau semakin berkurang karena banyak diburu untuk diambil pelindung tubuhnya (karapaks dan platron) sebagai hiasan, telurnya sebagai sumber protein tinggi dan obat, juga dagingnya sebagai bahan makanan. Berbagai bentuk kegiatan penangkaran dilakukan sebagai upaya mengkonservasi hewan ini. Salah satu tempat lokasi migrasi penyu yang saya pernah datangi adalah Pulau Samber Gelap yang merupakan salah satu jalur 2 jenis penyu , yaitu penyu belimbing dan penyu hijau. Di tempat ini sebagian penyu dilakukan upaya konservasi dengan cara melakukan pembesaran dan pelepasan tukik dan sebagian lainnya dimanfaatkan secara ekonomi.

Image

Tukik dari jenis penyu belimbing

Image

Image

Status Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Lombok

Perairan Indonesia, adalah salah satu pusat keragaman hayati bawah laut dunia. Kawasan yang masuk ke dalam Segitiga Terumbu Karang Dunia atau Coral Triangle Center ini merupakan rumah bagi sekitar 76% spesies terumbu karang dunia.

Salah satunya adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok yang termasuk kedalam Provinsi NTB merupakan pintu gerbang ke kawasan Wallacea yang memiliki keragaman spesies yang tinggi dengan tingkat endemisitas yang tinggi dan dilewati oleh arus lintas Indonesia yang membawa massa air, plankton, dan larva dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia.

Namun pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut membawa potensi masalah pada sebagian wilayah pada masing-masing kabupaten di wilayah Lombok seperti aktivitas sosial ekonomi pada daerah hulu akan menimbulkan berbagai dampak terhadap ekosistem pada daerah tengah maupun hilir, antara lain sedimentasi perairan, tingkat kekeruhan air, erosi, dan pencemaran.

©WCS-IP

Menanti status kawasan yang lebih tegas demi menjaga keindahan terumbu karang yang tersisa. Foto: WCS

Selain itu kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan racun masih banyak ditemukan. Permasalahan tersebut belum tertanggulangi karena lemahnya penegakan hukum dan minimnya informasi terkini terkait kondisi dan keragaman ekosistem pesisir dan laut di wilayah ini, khususnya yang berkaitan dengan data ekosistem terumbu karang.

Pada tahun 2012, Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program melakukan kajian ekologi terumbu karang di Kabupaten Lombok Utara dalam upaya mendukung pengelolaan kawasan konservasi perairan nasional Taman Wisata Perairan Gili Matra. Kemudian pada tahun 2013, WCS melanjutkan kajian ekologi terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Kegiatan survei ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juni – 30 Juni 2013 di 35 titik pengamatan yang mewakili perairan Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah.  Kegiatan survei ekologi ini merupakan bagian dari komitmen WCS untuk mendukung program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perairan dan pengelolaan perikanan berkelanjutan di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Hasil kajian ini menemukan bahwa kekayaan ekosistem terumbu karang di pulau Lombok, terdiri dari 66 genera karang keras yang berasal dari 17 famili karang keras. Secara umum kondisi ekosistem terumbu karang di perairan pulau Lombok mengalami kerusakan, hasil observasi menemukan bahwa  tutupan substrat terumbu karang di Pulau Lombok didominasi oleh karang mati beralga sebesar 42,62%, sedangkan tutupan karang keras hanya sebesar 29,52%. Lokasi dengan tutupan karang keras tertinggi ditemukan di Kabupaten Lombok Barat sebesar 35.52%, sedangkan yang terendah ditemukan di Kabupaten Lombok Utara sebesar 22,78%.

WCS_CRS_Lombok-3

Secara umum terumbu karang di Pulau Lombok telah mengalami kerusakan. Foto: WCS

Selain itu tim peneliti juga menemukan salah satu jenis karang endemik Indonesia tepatnya tersebar di wilayah Lesser Sunda yaitu Acropora suharsonoi. Sampai saat ini the International Union for Conservation of Nature (IUCN) merilis bahwa jenis karang tersebut baru ditemukan di wilayah Bali bagian barat, Bali bagian timur, dan Gili Matra Lombok. Dengan temuan tersebut mudah-mudahan misteri keanekaragaman hayati laut di Lombok terus terungkap.

Selanjutnya, tim peneliti WCS menemukan bahwa biomassa ikan karang di Pulau Lombok sebesar 541,85 kg per hektare.  Lokasi dengan biomassa ikan karang tertinggi ditemukan di Kabupaten Lombok Barat sebesar 818,43 kg per hektare, hal ini menunjukkan bahwa Pulau Lombok memiliki potensi perikanan karang yang tinggi dibandingkan beberapa wilayah di Indonesia, Ujar Shinta T. Pardede selaku peneliti ikan karang WCS.

Peneliti juga mencatat sebanyak 578 spesies yang berasal dari 162 genera dan 49 famili ikan karang yang ditemukan selama survei. Berdasarkan kelompok trofik, hampir 80% ikan karang di perairan Lombok didominasi oleh planktivora dan omnivora, yaitu kelompok ikan yang mayoritas dari famili Caesionidae (ekor kuning dan pisang-pisang), Pomacentridae (betok laut) dan Labridae (keling-kelingan), kecuali di Kabupaten Lombok Tengah.

Pulau Lombok memiliki potensi perikanan karang yang tinggi, disisi lain terdapat ancaman terhadap degradasi ekosistem terumbu karang.  Hal ini terlihat dari kerusakan habitat terumbu karang yang cukup besar, meninggalkan hamparan padang pecahan karang yang luas di hampir 40% luasan terumbu karangnya. Kondisi ini merata hampir di semua kabupaten di Pulau Lombok.  Praktek penangkapan ikan dengan bom dan racun, diduga merupakan salah satu faktor utama penyebab kerusakan ini.

Efektivitas pengelolaan TWP Gili Matra sebagai kawasan konservasi perairan nasional dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan telah berada pada tahap dikelola minimum.  Demikian pula dengan Kabupaten Lombok Timur dengan adanya KKPD Gili Lawang dan Gili Sulat, KKPD Gili Petagon, serta lokasi Suaka Perikanan di Sapakoko, Gili Rango, Taked Pedamekan, Gusoh Sandak, dan Taked Belanting.

WCS_CRS_Lombok-1

Foto: WCS

Sebagian besar kawasan tersebut masih pada tahap diinisiasi.  Sementara itu, kawasan konservasi perairan di Kabupaten Lombok Tengah sudah berada dalam tahap didirikan untuk menjadi TWP Teluk Bumbang. Keunikan dan pesona laut Lombok Tengah memberikan kekhasan tersendiri untuk dikelola sebagai objek wisata, sedangkan potensi perikanan budidaya lobster dan rumput lautnya merupakan salah satu aset nasional yang sangat penting.

Untuk dapat mengelola sumberdaya yang ada di kawasan TWP Teluk Bumbang, penetapan status kawasan berdasarkan landasan hukum yang sesuai dan pengembangan sistem pengelolaan yang terpadu merupakan dua elemen penting pengelolaan kawasan konservasi yang perlu segera ditindaklanjuti oleh pengelola kawasan. Selain itu, diperlukan juga dukungan penuh dari berbagai elemen terkait untuk dapat mencapai pengelolaan TWP Teluk Bumbang yang efektif.

Kabupaten Lombok Barat juga memiliki potensi cukup tinggi dalam hal sumberdaya pesisir dan laut maupun keragaman hayatinya, kawasan ini masih berada dalam tahap inisiasi kawasan konservasi perairan daerah (KKPD). Sementara hasil survei menunjukkan bahwa lokasi di sekitar Gili Gede, Gili Renggit, Gili Layar, sampai ke Bangko-bangko juga memiliki nilai penting secara ekologis.  Hal ini terlihat dari  keragaman jenis karang dan ikan karang yang tinggi, serta kondisi substrat dan komunitas ikan karang yang sangat baik.  Lokasi ini memiliki nilai estetika lingkungan yang tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari.

Sebagai bagian dari jejaring kawasan konservasi perairan di ekoregion laut Sunda Kecil dan Segitiga terumbu karang, usaha pelestarian terumbu karang di Lombok harus terus dikembangkan, baik dalam hal meningkatkan kesadartahuan masyarakat, menjembatani kepentingan setiap pengguna sumberdaya, juga dalam hal monitoring, pengawasan, dan penegakan hukum.

Sumber : Aji Wihardandi

Artikel tersebut dapat dibaca juga pada link berikut : http://www.mongabay.co.id/2014/01/27/ekosistem-terumbu-karang-pulau-lombok-menanti-status-legalitas-kawasan/