Survei ikan karang pada ekosistem lamun di Wakatobi, Sulawesi Tenggara

Ini adalah sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan bagaimana saya belajar dan mengamati hal-hal yang baru dan saya bilang ini sangat menyenangkan

Pada bulan Mei lalu masih terbesit dalam ingatan saya ketika saya dimanjakan oleh pemandangan alam yang katanya surga bawah laut, ya WAKATOBI yang artinya Wangi-wangi, Kaledupa, Binongko dan Tomia mengambil nama dari keempat pulau besar yang ada di Kepulauan tersebut. Kepulauan Wakatobi ini dulu bernama Kepulauan Tukang Besi yang katanya banyak sekali Tukang pandai besi yang mendiami di pulau tersebut. Tapi hari ini saya tidak mau bercerita tentang sejarah kepulauan Wakatobi, yap saya mendatangi pulau ini untuk kedua kalinya.

Pesawat yang mengantar  kami pun mendarat di bandar udara Matohara, Wakatobi. Kegiatan kali ini merupakan kegiatan penelitian untuk mengetahui spesies-spesies ikan di area padang lamun. Kali ini saya bertugas sebagai asisten bersama Supervisor saya, Shinta Pardede. Kami melakukan kegiatan penelitian di dua pulau, yaitu Wangi-wangi (Patuno Resort dan Numana) Kaledupa (Hoga, Sonbano dan Buranga). Kelima lokasi tersebut dipilih berdasarkan status kawasan di lokasi tersebut yang merupakan area perlindungan atau bisa dikatakan area tersebut merupakan area larangan menangkap ikan.

Berbeda dengan survei komunitas ikan karang yang biasa dilakukan menggunakan alat scuba. Pada survey kali ini kami hanya menggunakan beberapa alat dasar selam (Snorkel, Masker dan Fins) serta jaring ikan dengan lebar 10 meter serta  mesh size yang cukup kecil untuk menjaring ikan-ikan di padang lamun.

Hari pertama survey kami langsung menuju ke Numana di bantu oleh Pak Made staf dari Balai Taman Nasional Wakatobi serta pak Halim yang merupakan staf dari LSM Forkani. Kegiatan berlangsung di sore hari, dimana kami melakukan pendataan jenis ikan-ikan yang ditemukan di padang lamun  menggunakan 9 transek dengan panjang 50 meter. Hal yang cukup menyenangkan jenis-jenis ikan yang ditemukan umumnya merupakan jenis ikan juvenile (ikan dalam fase mendekati remaja/dewasa) cukup sulit untuk mengidentifikasi jenis ikan tersebut mengingat ukurannya yang cukup kecil serta perbedaan warna dan ukurannya dibandingkan dengan spesies ikan yang dewasa.

Selain pengambilan jenis ikan menggunakan transek garis, kami juga mencoba mengidentifikasi keberadaan jenis ikan yang berada di Lamun menggunakan jaring, yap kami menjaring ikan ketika air laut mulai surut, artinya kami baru  bisa melakukan kegiatan menjaring ketika malam hari (sekitar jam 6 sore).

Aktivitas di hari berikutnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Suatu hal yang membedakan adalah lokasi-lokasi kegiatan survei masih cukup banyak ditemui komunitas padang lamun. ya bisa aku bilang kondisi lamun masih cukup baik dengan tutupan sekiatar 60-80 %.

Saya bersama Mba Shinta dan staf Balai dan Forkani

Saya bersama Mba Shinta dan staf Balai dan Forkani

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pengambilan Data Lamun Menggunakan metode Random Sampling

Patuno Resort

Patuno Resort

Perkamupungan Suku Bajo di Sampela

Perkamupungan Suku Bajo di Sampela

Menjaring di malam hari bersama staf Balai Tama

Menjaring di malam hari bersama staf Balai

Menjaring Ikan di Malam hari hehehe

Menjaring Ikan di Malam hari hehehe

Nice View

Nice View