Belajar dan menjaga ekosistem bawah laut di Desa Bahoi

Bahoi, itulah nama salah satu desa yang berada di Kabupaten Minahasa Utara. Sebagai salah satu desa yang memploklamirkan kegiatan wisata laut yang berbasiskan konservasi. Konservasi di sini diartikan sebagai salah tindakan menjaga dengan  menyisihkan sebagian area yang dibentuk menjadi daerah perlindungan laut  dengan harapan sumberdaya yang ada bisa dijaga dan dikelola secara arif dan berkelanjutan. Pada awalnya tahun 1999, desa ini jadi satu di antara 31 desa di kawasan pesisir yang diarahkan sebagai wilayah Daerah Perlindungan Laut (DPL). Melalui program Coastal Resources Management Project (CRMP), warga desa mendapat sejumlah sosialisasi dan kegiatan.

Pagi ini saya coba merangkai sedikit cerita yang saya dapat ketika melakukan kunjungan ke desa tersebut dalam rangka kegiatan penelitian terhadap beberapa desa yang sudah pernah didampingi sebelumnya oleh WCS. Beberapa DPL yang kami survei, yaitu DPL Pulisan, DPL Tarabitan, DPL Tambun dan DPL Tanah Putih. tidak termasuk DPL di daerah Bahoi.

Perjumpaan dengan Dugong

Hari pertama setelah beres kegiatan survei di DPL Tanah Putih, ketika kapal kecil yang kami naiki mulai memasuki wilayah Bahoi. Anis, salah seorang teman yang menemani kami survei berteriak bahwa dia melihat seekor dugong tampak sekelebat dugong tersebut terlihat di permukaan. agak sulit memang untuk mendekat secara hewan ini sedikit pemalu terhadap manusia. Beberapa lokasi yang kami temui terlihat kondisi ekologis masih terlihat cukup baik, meskipun kerusak yang ditemukan masih ada.

Bahoi yang merupakan salah satu desa yang masih menjaga ekositem lautnya memang perlu didukung dan dijaga lebih lanjut mengingat kekayaan dan keanekaragaman hayati laut yang masih cukup alami berupa hamparan ekosistem mangrove dan terumbu karang, selain itu spesies kunci seperti dugong yang masih sering terlihat di desa tersebut merupakan salah satu spesies yang mesti dijaga dan dilindungi.  mengingat status  IUCN mengklasifikasikan dugong sebagai spesies hewan yang terancam, manakala CITES melarang atau mengharamkan perdagangan barang-barang produksi yang dihasilkan dari hewan ini. Walau pun spesies ini dilindungi di beberapa negara, penyebab utama penurunan populasinya di antaranya ialah karena pembukaan lahan baru, perburuan, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam menangkap ikan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s