Menyambangi Pulau Samber Gelap

Pulau Samber Gelap merupakan salah satu Pulau yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan tepatnya di Kota Baru. Akses menuju pulau ini dapat ditempuh melalui jalur darat dan jalur udara. Dari bandar undara Syamsudin Noor, kota BanjarBaru dapat ditempuh menggunakan pesawat selama kurang lebih 30 menit menuju Kota Baru, sedangkan dari jalur darat dapat ditempuh selama kurang lebih 10-12 jam. Ada baiknya menggunkan jalur udara selain waktu tempuh yang cukup singkat harga tiket yang ditawarkan juga tidak terlalu mahal.

Perjalanan dari Kota Baru menuju Pulau Samber Gelap dapat ditempuh menggunkan Speedboat dengan waktu tempuh selama dua jam. Pulau Samber Gelap ini memiliki kondisi pantai dengan pasir halus dan bersih serta jauh dari keramaian dan cahaya, memang pada saat saya datangi tidak ada listrik di sini, sehingga penerangan dilakukan lampu teplok. Kondisi demikian yang membuat penyu tertarik untuk bertelur di Pulau tersebut.

100_0641

Kondisi Pantai di Pulau Samber Gelap yang memiliki pasir yang putih dan bersih

Pepohonan yang rimbun di Pulau Samber Gelap

Pepohonan yang rimbun di Pulau Samber Gelap

Menurut Pak Rahmadi, penjaga pulauyang saya temui di pulau tersebut  penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) merupakan jenis penyu yang biasa ditemui setiap malamnya untuk melakukan kegiatan peneluran. Harga satu buah telur penyu hijau dihargai Rp 4.000, sedangkan satu buah telur penyu sisik dihargai Rp 2.000.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu di Kosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.

Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.

Ancaman yang paling besar bagi penyu di Indonesia, seperti juga halnya di seluruh dunia, adalah manusia. Pembangunan daerah pesisir yang berlebihan telah mengurangi habitat penyu untuk bersarang. Penangkapan penyu untuk diambil tellur, daging, kulit, dan cangkangnya telah membuat populasi penyu berkurang. Upaya pemanfaatan tersebut harus sejalan juga dengan usaha konservasi yang berkelanjutan. Hal inilah yang dilakukan oleh stakeholder setempat dimana setiap tahunnya dilepaskan 700 hingga 1000 tukik untuk setiap jenisnya sebagai usaha konservasi yang berkelanjutan.

Konservasi Penyu dapat menjadi alternatif tambahan untuk pengembangan wisata sehingga diharapkan kelestarian penyu tersebut juga dapat terjaga karena wisata yang “dijual” adalah populasi penyu dengan aktifitas bertelurnya.  Untuk wisata seperti ini maka diperlukan kajian untuk pengelolaan yang tepat untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak ekosistem serta populasi penyu tersebut.
Wisata memancing (fishing) juga dapat menjadi alternatif pengembangan wisata, kegiatan yang saya lakukan berupa identifikasi jenis ikan terumbu di pulau tersebut banyak ditemukan spot-spot ikan terutama ikan tenggiri, famili Scaridae, Barracuda famili Sphyraenidae, Mullidae, famili Carangidae dengan ukuran >40 cm serta bobot yang cukup besar, sehingga dengan pengelolaan yang baik akan menjadi salah satu pilihan untuk wisata fishing, namun sayangnya masih terlihat usaha penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti kegiatan penggeboman yang merusak terumbu karang diperlukan usaha bersama antara pemerintah stakeholder setempat serta masyarakat untuk saling menjaga lingkungan.

Scholling jenis ikan Carangidae

Scholling jenis ikan Carangidae

Patahan Karang yang hancur akibat penggeboman

Patahan Karang yang hancur akibat penggeboman

Sumber:

  1. Research and Management Techniques for Conservation of Sea Turtles, edited by Karen L. Eckert, IUCN/SSC Marine Turtle Specialist Group, 1999
Advertisements

One thought on “Menyambangi Pulau Samber Gelap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s