# 27 Juni 2012 #sepakbola #ayah

Ah sudah lama saya tidak bercerita seperti ini. Cerita ini mungkin sudah usang tapi nggak masalah. Cerita ini tentang saya dan ayah saya, tentang bagaimana kami berdua menyukai sepakbola. Ya sepakbola mungkin adalah cinta pertama saya yang belum pernah mati hingga saat ini. Hemm begini ceritanya, saya pribadi mungkin mulai mengikuti sepakbola, tepatnya ketika piala dunia 1998 dimana pada saat itu merupakan masa-masa jayanya Brazil yang diruntuhkan Perancis. Umur saya ketika itu sekitar 11 tahunan. Saya tumbuh di lingkungan bagaimana setiap orang sangat mengagumi seorang Alesandro Del Piero Game maker tim Juventus Jadilah saya tergila-gila tim nasional Itali yang di kala itu masih diperkuat oleh si kincir Roberto Baggio. Berbeda dengan saya, ayah saya sangat-sangat menyukai tim nasional Inggris dan sangat-sangat menyukai setan merah.

                Baru pada awal tahun 2000, ketika liga Itali di siarkan di televisi barulah saya melihat bagaimana permainan seorang il capitano Francesco totti membawa AS ROMA scudetto SERI-A bersama il Aeropleno Montella dan tukang gedor Batistuta. Jatuh cinta lah saya pada tim AS Roma yang di kala itu masih di pimpin oleh sang maestro, Fabio Capello.

                Satu cerita yang paling saya ingat adalah bagaimana seorang ayah membangunkan saya hanya untuk menonton dan menemaninya menonton bola. Pada pertengahan pertandingan saya pun tertidur dan terlelap. Kalo dipikir-pikir dulu itu kami sangat bertolak belakang sekali banyak sekali perbedaan pendapat tentang sepakbola dan kalo yang kalah kami suka saling meledek, satu hal yang saya ingat adalah bagaimana kekalahan Italy atas Perancis pada Euro 2000 serta kekalahan Italy atas Korea Selatan di piala dunia 2002. Waktu itu saya menangis beneran lhoo bukan dibuat-buat. Satu nesehat nya di kala itu adalah bagaimana kita melihat suatu kekalahan sebagai motivasi dan janganlah mencintai sesuatu terlalu dalam hingga suka akan kefanatikan

                 Waktu itu, mungkin saya belum begitu mencerna dan mengerti apa maksud  perkatannya mungkin maksudnya adalah bagaimana kita menyikapi suatu kegagalan bukan dengan cara pesimis kali y dan jangan mencintai sesuatu secara fanatik, ini terbukti lho banyak yang meninggal hanya karena berkonflik antar suporter..seperti itu mungkin..Satu pelajaran dari sepakbola yang bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan.

                Euro 2004 adalah kenangan saya terakhir menonton bola bersama beliau  sebelum pergi menghadap ilahi pada Agustus 2005.

Satu hal yang ingin saya bilang waktu itu adalah : Pak Italy tahun 2006 juara dunia lho….mana Inggris nggak pernah juara ….ingin sekali saya mengucap seperti itu.

Dan kemarin adalah pertandingan antara Inggris dan Italy pada laga perempat final Euro 2012. Laga yang spesial, jikalau beliau masih ada, banyak sekali yang saya ingin ceritakan sepertinya sebenarnya bukan hanya tentang sepak bola sihhh

Ini bukan cerita saya tentang kesedihan, yang namanya kehilangan itu sebuah kepastian, hidup selalu berjalan ibarat daun yang berguguran yang tua akan selalu digantikan dengan yang muda dan ini juga bukan cerita saya tentang indomi. Ini hanya cerita saya tentang memori manis bagaimana saya mencintai sepakbola

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s