The Namesake, di balik arti sebuah nama

Ini salah satu film India favorit saya yang udah pernah saya tonton, ceritanya bisa dibilang cukup sederhana , tapi sangat menarik. Diangkat dari sebuah buku karya Jumpa Lahiri, penulis India yang tinggal di Amerika. Film ini bercerita tentang pasangan suami-istri yang merantau ke Amerika (AS) di sini dikisahkan bagaimana seorang Ashoke Ganguli dan istrinya Ashima harus belajar adanya perbedaan tradisi dan budaya antara India dan Amerika.  Adaptasi lingkungan, benturan-benturan budaya mewarnai kehidupan suami istri ini, keadaan diperparah dengan keadaan Ashima yang selalu merasa kesepian karena hidup berjauhan dengan keluarga besar Ganguli di India. Di tengah masa-masa suram itu lahirlah putra pertama mereka, Gogol Ganguli.

Gogol inilah yang menjadi tokoh utama dari novel ini. Sesuai dengan tradisi keluarga India, Pemberian nama anak akan diberikan oleh sang nenek dari ibu, karena itu mereka tidak perlu bersusah-payah mencari nama untuk anak mereka, baik nama anak perempuan maupun laki-laki. Tapi sampai lahirnya si bayi, surat dari India yang berisi nama itu tidak kunjung tiba. Terjadi kepanikan ketika Ashoke dan Ashima akan membawa pulang si bayi dari rumah sakit, karena sistem di AS mengharuskan setiap bayi yang baru lahir untuk membuat akte kelahiran dan itu membutuhkan nama, sedangkan Ashoke dan Ashima ngotot untuk memberi nama anak mereka dengan nama pemberian dari india. Di tengah kepanikan itu muncul lah nama “Gogol”, nama yang tidak lazim bagi keluarga Bengali. Kisah tragis yang dialami Ashoke ketika berusia 22 tahun di India yang mengilhami dirinya memberi nama Gogol untuk si bayi.

Gogol sendiri merupakan nama yang diberikan oleh Ashoke akibat peristiwa pada saat dia menaiki kereta dimana pada saat itu terjadi kecelakaan dan Ashole selamat berkat dia melambaikan buku yang sedang ia baca kepada regu penyelamat. Nikolai Gogol sendiri merupakan pengarang dari buku yang mnyelamatkan Ashoke.

Pada awalnya Gogol masih merasa nyaman dengan nama pemberian ayahnya itu, sampai ketika Gogol mulai beranjak dewasa dia merasakan ada yang salah dengan namanya, ledekan teman-temannya dan tatapan aneh orang ketika ia menyebutkan namanya membuat dia sangat membenci nama Gogol.Di sini diceritakan adanya ketidaksukaan gogol terhadap nama yang diberika orang tuanya, dimana Gogol mengetahui riwayat hidup sang pengarang yang meninggal muda akibat sakit kejiwaan.

Dalam kehidupan imigran India, mereka membuat sebuah koloni dengan keluarga-keluarga Bangali lainnya dari waktu ke waktu semakin bertambah. Kemajuan karir Ashoke sebagai Dosen jurusan Elektro mengharuskan mereka untuk pindah dari kota Cambridge ke Boston, sementara Ashima tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga yang mengurus rumah tangga dengan tetap melekatkan budaya India kepada anak-anaknya. Ashima tetap mengenakan sari sebagai pakaiannya sehari-hari, tetap melakukan ritual-ritual keagamaan yang biasa dia lakukan di tanah kelahirannya dan selalu memasak masakan India bagi keluarganya.

Realita kehidupan sebagai warna negara AS biasa dan tekanan keIndiaannya menjadikan Gogol lebih suka menghabiskan waktunya di asrama dan perpustakaan kampus. Benturan-benturan budaya terus dialami Gogol, kencannya dengan beberapa teman wanitanya yang bukan turunan India dilarang kedua orang tuanya, sampai suatu ketika Gogol tinggal satu rumah dengan kekasihnya Maxine dan keluarganya.

Gaya hidup keluarga Maxine yang sangat Amerika dirasakan Gogol berbeda jauh dengan keluarganya yang selalu teguh memegang adat istiadat India, hal ini makin mempertajam ketidaknyamanan Gogol sebagai turunan India. Tapi semua tidak berlangsung lama, kepergian sang Ayah untuk selama-lamanya menyadarkan Gogol atas kekeliruannya selama ini, ditambah rasa bersalah Gogol dengan penggantian namanya setelah ia mengetahui cerita sebenarnya di balik nama Gogolnya itu, nama yang sangat berarti buat ayahnya. Akhirnya untuk mengurangi rasa bersalahnya kepada ayah dan ibunya, Gogol menerima tawaran sang Ibu untuk diperkenalkan dengan wanita turunan India dari komunitas Bengali untuk dijadikan istri. Pesta penikahan dengan adat India lengkap dilaksanakan dengan megah, Gogol melihat kebahagiaan terpancar dari senyum sang Ibu, tapi pernikahan itu tidak berlangsung lama karena Gogol mengetahui kalau istrinya berselingkuh. Akan tetapi di luar semua penderitaan yang dialami Gogol karena penghianatan istrinya, perjalanan hidup Gogol menyadarkan Gogol bahwa hidup dengan darah Indianya bukan sebuah masalah.

Ada bagian yang saya sukai di film ini, salah satunya adalah upacara adat Annaprasan: upacara nasi pertama bagi bayi india yang telah memasuki usia 6 bulan. Dalam upacara ini sang bayi disuapi nasi pertama dalam kehidupan pertama mereka. Lalu puncak upacara diadakan acara meramal jalan hidup sang bayi di masa datang. Bayi disodori piring berisi segumpal tanah tempat tinggal, bolpoin dan selembar uang untuk melihat apakah sang bayi di masa datang akan menjadi tuan tanah, cendikiawan atau pengusaha.

Tema dan alur cerita dalam film ini sangat sederhana dan tak berbelit-belit. Benturan-benturan budaya, gaya hidup dan lingkungan  yang jauh berbeda dan lebih bebas terkadang membuat aturan-aturan budaya asal yang cenderung mengekang dan membatasi membuat adanya pergolakan dalam diri generasi keduanya.

Film yang sangat menarik !!alurnya berjalan tidak berbelit!! tahu-tahu waktu sudah berjalan selama 3 jam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s